![]() |
| Foto: Tropenmuseum Belanda |
WAILOLONG – Selembar foto hitam putih dari arsip Tropen Museum Belanda menjadi saksi bisu perjalanan sejarah masyarakat di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Wailolong, Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur. Dokumentasi tersebut memperlihatkan proses pembangunan sebuah korke baru pada tahun 1929, jauh sebelum Indonesia merdeka dan sebelum wilayah ini berkembang seperti sekarang.
Foto bersejarah itu tidak hanya menyimpan nilai dokumentasi visual, tetapi juga menjadi pengingat tentang kehidupan sosial dan budaya masyarakat Flores Timur pada masa lampau. Dalam gambar tersebut tampak masyarakat bergotong royong membangun sebuah korke, rumah adat yang memiliki fungsi penting dalam kehidupan komunitas adat setempat.
Bagi masyarakat Lamaholot, korke bukan sekadar bangunan fisik. Korke merupakan simbol persatuan, tempat bermusyawarah, melaksanakan ritus adat, mengambil keputusan penting, serta menjadi pusat berbagai kegiatan sosial masyarakat. Kehadirannya mencerminkan identitas dan ikatan kekeluargaan yang kuat di dalam sebuah kampung adat.
Dokumentasi pembangunan korke baru pada tahun 1929 menunjukkan bahwa semangat gotong royong telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak dahulu. Proses pembangunan rumah adat melibatkan banyak orang. Setiap anggota komunitas mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing, mulai dari pengumpulan bahan bangunan, pengerjaan struktur, hingga penyelesaian akhir.
Kini, hampir satu abad telah berlalu sejak foto tersebut diabadikan. Wilayah yang dahulu masih berupa perkampungan sederhana telah berkembang menjadi Desa Wailolong dengan berbagai kemajuan infrastruktur dan akses yang semakin baik. Jalan beraspal menghubungkan desa dengan pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi, sementara masyarakat terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Namun demikian, dokumentasi sejarah seperti ini mengingatkan bahwa kemajuan tidak boleh membuat masyarakat melupakan akar budayanya. Foto dari Tropen Museum menjadi jendela yang membuka pandangan generasi masa kini terhadap kehidupan leluhur mereka—bagaimana mereka bekerja bersama, membangun dengan semangat kebersamaan, dan menjaga nilai-nilai adat sebagai pedoman hidup.
Bagi generasi muda Wailolong, arsip visual tersebut memiliki nilai edukatif yang tinggi. Sejarah tidak hanya ditemukan dalam buku-buku pelajaran, tetapi juga tersimpan dalam foto-foto lama yang merekam momen penting perjalanan sebuah komunitas.
Tokoh masyarakat setempat berharap agar berbagai dokumentasi sejarah yang berkaitan dengan Wailolong dapat terus ditelusuri, dikumpulkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas. Upaya ini penting agar warisan budaya dan kisah para pendahulu tidak hilang ditelan waktu.
Foto lama seperti ini sangat berharga. Dari sini kita belajar tentang siapa kita, bagaimana leluhur kita hidup, dan nilai-nilai apa yang mereka wariskan kepada kita, ungkap salah seorang warga.
Di tengah arus modernisasi, selembar foto pembangunan korke tahun 1929 mengajarkan bahwa identitas sebuah desa dibangun bukan hanya oleh bangunan-bangunan baru, tetapi juga oleh ingatan kolektif yang terus dijaga. Dari tangan-tangan para leluhur yang bekerja bersama mendirikan korke, lahirlah semangat persaudaraan yang hingga kini tetap menjadi kekuatan masyarakat Wailolong.
Dokumentasi dari Tropen Museum Belanda itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar foto lama. Ia adalah jejak sejarah, cermin kebudayaan, dan penghubung antara masa lalu dengan masa kini, agar masyarakat Desa Wailolong terus melangkah maju tanpa melupakan warisan yang telah dititipkan oleh para pendahulu.

