Tidak semua kenangan masa muda lahir dari kampung halaman sendiri. Ada yang tumbuh dari tempat-tempat persinggahan, dari rumah-rumah kerabat yang pintunya selalu terbuka, dari percakapan sederhana di beranda, atau dari pekerjaan kecil yang tanpa disadari meninggalkan jejak mendalam dalam ingatan. Bagi saya, Dusun Badu di Desa Wailolong adalah salah satu tempat itu.
Saya memang bukan anak yang lahir dan dibesarkan di Wailolong. Namun, beberapa kali berada di sana membuat saya merasa cukup akrab dengan denyut kehidupan masyarakatnya. Ada kerabat yang menetap di Kampung Badu, sehingga sejak dulu saya beberapa kali berkunjung dan menyaksikan secara langsung bagaimana masyarakat menjalani kesehariannya.
Dusun Badu memperlihatkan wajah pedesaan pesisir yang bersahaja. Kehidupan berjalan dalam irama yang tenang. Pagi dimulai dengan langkah menuju kebun, siang diisi dengan mengolah hasil bumi, sementara sore hari menjadi waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan tetangga.
Sebagian besar warga menggantungkan hidup sebagai petani pekebun. Di antara berbagai tanaman yang tumbuh, kelapa menjadi salah satu komoditas utama yang menopang ekonomi keluarga. Pohon-pohon kelapa tumbuh berjajar di kebun-kebun milik warga, menjadi sumber penghidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Hasil panen kelapa umumnya diolah menjadi kopra. Dari kopra itulah warga memperoleh penghasilan untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga, membiayai pendidikan anak, hingga memenuhi kebutuhan adat dan sosial. Namun, bagi masyarakat Badu, kelapa bukan hanya soal kopra.
Pada waktu-waktu tertentu, terutama ketika harga dianggap lebih menguntungkan atau kebutuhan rumah tangga meningkat, buah kelapa juga diolah menjadi minyak kelapa tradisional. Proses ini bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga pengetahuan lokal yang terus dipraktikkan. Saya masih mengingat dengan jelas salah satu pengalaman itu.
Tahun 2010, ketika masih bekerja di Bengkel Ora Keri di Gege, saya memanfaatkan waktu libur untuk mengunjungi kerabat di Badu. Usia yang masih muda membuat saya merasa siap untuk kegiatan apapun. Saat melihat persiapan pembuatan minyak kelapa, saya pun ikut membantu. Pagi itu dimulai dari kebun.
Karena masih mampu memanjat pohon kelapa, saya naik ke beberapa batang kelapa yang menjulang tinggi. Satu per satu buah dipetik dan dijatuhkan ke tanah. Puluhan buah kelapa tua berhasil dikumpulkan. Di bawah pohon, kerabat menunggu sambil mengumpulkan hasil petikan. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat tumpukan kelapa semakin banyak. Keringat bercucuran, telapak tangan mulai terasa kasar karena memegang batang kelapa, tetapi suasana kebersamaan membuat pekerjaan terasa ringan. Setelah semua terkumpul, pekerjaan berlanjut di rumah.
Tempurung dibelah. Daging kelapa dipisahkan, lalu diparut menggunakan mesin parut listrik. Bagi masyarakat yang sebelumnya terbiasa menggunakan alat manual, kehadiran mesin parut tentu sangat membantu mempercepat pekerjaan.
Kelapa yang telah diparut kemudian diperas untuk menghasilkan santan. Santan itu ditampung dalam wadah-wadah besar dan didiamkan sebelum memasuki proses pengolahan berikutnya hingga menjadi minyak kelapa. Aktivitas itu berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang.
Saya tidak sempat menyaksikan seluruh proses sampai minyak matang dan siap digunakan. Setelah membantu pekerjaan awal, saya harus kembali ke Larantuka untuk melanjutkan rutinitas pekerjaan di bengkel. Namun, perjalanan pulang hari itu justru menjadi cerita tersendiri.
Saat hendak berangkat, kami mendapat informasi adanya razia lalu lintas atau tilang. Demi menghindari pemeriksaan, perjalanan dialihkan. Kami memilih memutar ke arah desa Lewohala, mengelilingi Ile Mandiri dan muncul dari arah timur melalui Watowiti sebelum akhirnya kembali ke Gege. Jalur berputar itu memang lebih panjang, tetapi memberikan pengalaman berbeda. Dari perjalanan tersebut, bentang alam Flores Timur tampak begitu indah. Gunung, perkampungan, kebun-kebun warga, serta jalan yang membelah perbukitan seolah menghadirkan wajah lain dari daerah yang selama ini akrab di mata. Kenangan sederhana itu masih tersimpan hingga sekarang.
Badu mungkin bukan desa yang dikenal luas sebagai tujuan wisata besar. Tidak ada gemerlap kota atau bangunan megah yang menjadi pusat perhatian. Namun, justru dalam kesederhanaannya, dusun ini menyimpan kekayaan yang sering luput dari perhatian: ketekunan bekerja, semangat gotong royong, dan kemampuan masyarakat memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia.
Di tengah perubahan zaman, Desa Wailolong juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Infrastruktur jalan yang telah beraspal membuat akses transportasi semakin mudah. Kendaraan roda dua maupun roda empat dapat melintas dengan nyaman. Kedekatan akses menuju Kota Larantuka memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menjual hasil kebun, memperoleh layanan pendidikan, kesehatan, maupun memenuhi kebutuhan lainnya.
Kemajuan tersebut menjadi modal penting bagi masyarakat untuk terus berkembang tanpa kehilangan akar kehidupannya sebagai masyarakat agraris. Ketika mengingat kembali Dusun Badu, yang muncul dalam benak saya bukanlah bangunan atau jalan yang mulus. Yang paling membekas justru aroma santan kelapa yang baru diperas, suara mesin parut yang bekerja tanpa henti, tumpukan buah kelapa di halaman rumah, dan canda para kerabat yang menemani pekerjaan sepanjang pagi.
Saat ini pun, ketika mendengar tentang Wailolong, hal yang pertama terlintas adalah keriuhan pertandingan sepakbola di lapangan Badu yang merupakan satu dari sedikit lapangan yang ukurannya sesuai standar sepakbola modern. Karena itu banyak kejuaraan sepakbola di Flores Timur mengambil tempat pelaksanaan di desa Wailolong.
Barangkali itulah makna sebuah kampung persinggahan. Ia mungkin bukan tempat kita dilahirkan, tetapi pernah menerima kehadiran kita dengan hangat. Ia mengajarkan nilai kerja keras tanpa banyak kata, memperlihatkan bahwa kebahagiaan dapat ditemukan dalam pekerjaan sederhana yang dilakukan bersama orang-orang terdekat.
Dusun Badu di Desa Wailolong telah menjadi bagian dari kenangan itu—sebuah ruang kecil dalam perjalanan hidup yang mengingatkan bahwa dari sebutir kelapa pun, kita bisa belajar tentang ketekunan, kebersamaan, dan rasa syukur atas kehidupan yang terus berjalan. (Admin blog)
